page

10 Jan 2013


wudhu
Allah Ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (Al-Maidah: 6).
Hukum-hukum wudhu yang disepakati
1- Bahwa anggota wudhu adalah empat: wajah, kedua tangan, kepala dan kedua kaki sebagaimana yang tercantum dalam ayat.
2- Bahwa anggota wudhu yang dibasuh adalah tiga selain kepala, yang terakhir ini disapu atau diusap, anggota yang dibasuh tidak cukup dengan disapu sementara jika anggota yang diusap itu dibasuh, maka hal itu termasuk sikap berlebih-lebihan.
3- Bahwa kewajiban membasuh atau mengusap masing-masing anggota adalah sekali dengan syarat sempurna.
4- Bahwa sunnah membasuh adalah tiga kali tidak lebih, sementara mengusap diperselisihkan.
5- Bahwa sebelum berwudhu disyariatkan membasuh kedua telapak tangan tiga kali dan mengucapkan basmalah.
6- Bahwa batasan wajah adalah tempat tumbuhnya rambut yang umum sampai bagian bawah dagu, dan apa yang ada di antara kedua telinga.
7- Bahwa berkumur dan istinsyaq termasuk perkara yang disyariatkan sebelum membasuh wajah.
8- Bahwa membasuh kedua tangan dilakukan sampai siku, dan ‘sampai’ di sini berarti ‘dengan’ atau ‘bersama’, artinya siku termasuk yang harus dibasuh.
9- Bahwa mengusap seluruh kepala termasuk perkara yang disyariatkan, perselisihannya terjadi pada cukup tidaknya mengusap sebagian kepala.
10- Bahwa membasuh kedua kaki adalah sampai kedua mata kaki, mata kaki yaitu dua tulang menonjol di sebelah dalam dan luar kaki pada sambungan antara telapak kaki dengan betis.
11- Bahwa anggota yang berpasangan disyariatkan membasuh anggota kanan sebelum anggota kiri.
Hukum-hukum wudhu yang diperselisihkan
Basmalah sebelum wudhu
Tidak ada perbedaan di kalangan para ulama tentang dianjurkannya basmalah sebelum berwudhu, berdasarkan anjuran Rasulullah saw untuk mengucapkannya sebelum melakukan perkara-perkara penting, dan salah satunya adalah wudhu.
Menurut Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i dan Ahmad dalam salah satu riwayat darinya, basmalah adalah sunnah tidak wajib.
Sementara menurut Ahmad dalam riwayat yang lain, basmalah adalah wajib.
Pendapat yang berkata sunnah berdalil kepada ayat wudhu, di sana tidak disinggung basmalah, padahal ayat tersebut menyebutkan fardhu-fardhu wudhu, jika basmalah wajib lalu mengapa tidak disinggung oleh ayat? Di samping itu pendapat ini juga berdalil kepada hadits-hadits tentang wudhu Nabi saw yang tidak menyinggung basmalah.
Pendapat yang berkata wajib berdalil kepada hadits,
لاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ
“Tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah atasnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Titik persoalan masalah ini terletak pada shahih tidaknya hadits di atas, pendapat pertama tidak berdalil kepada hadits ini karena menurut mereka ia dhaif (lemah), sampai Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku tidak mengetahui hadits yang shahih dalam perkara basmalah dalam wudhu.” Atau kalau ia shahih maka maksudnya adalah tidak ada wudhu yang sempurna bagi… dan seterusnya, seperti yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’.
Sementara pendapat kedua berdalil kepada hadits ini karena mereka memandangnya shahih, di antara yang menguatkannya adalah Ibnu Hajar, Ibnu Qayyim, Ibnu Katsir, Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh al-Albani. (Takhrij lengkap terhadap hadits ini silakan pembaca merujuk buku Ensiklopedia Dzikir dan Doa, Imam an-Nawawi, penerbit Pustaka Shahifa Jakarta).
Menurut pendapat yang berkata wajib, basmalah wajib dalam keadaan ingat bukan lupa.
Berkumur dan beristinsyaq
Imam Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i dan Ahmad dalam salah satu riwayat darinya berkata, sunnah.
Imam Ahmad dalam riwayatnya yang lain berkata, wajib.
Imam Ahmad dalam riwayatnya yang lain berkata, berkumur sunnah dan beristinsyaq wajib.
Pendapat pertama berdalil kepada ayat wudhu di mana yang wajib hanya membasuh wajah, dan wajah menurut bahasa adalah anggota yang dengannya seseorang berartimuwajahah (bertemu dan berhadap-hadapan).
Di samping itu Nabi saw bersabda kepada seorang Arab pedalaman, “Berwudhulah sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadamu.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan lainnya dari Abu Hurairah), dan yang diperintahkan Allah adalah yang tercantum dalam ayat.
Pendapat yang berkata wajib berdalil kepada wudhu Nabi saw yang disebutkan dalam hadits-hadits, di mana beliau selalu berkumur dan beristinsyaq, perbuatan beliau ini merupakan penjelasan terhadap maksud ayat wudhu. Di samping itu hidung dan mulut termasuk wajah karena tempat keduanya adalah wajah dan keduanya termasuk anggota luar, jadi keduanya wajib dibasuh dan membasuh keduanya adalah dengan berkumur dan beristinsyaq.
Pendapat yang berkata berkumur sunnah dan beristinsyaq wajib berdalil kepada hadits-hadits yang secara khusus memerintahkan beristinsyaq, di antaranya adalah sabda Nabi saw,
مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ “Barangsiapa siapa berwudhu maka hendaknya dia beristintsar.” (Muttafaq alaihi dari Abu Hurairah).
Dalam riwayat Muslim,
مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْشِقْ “Barangsiapa berwudhu maka hendaknya dia beristinsyaq.”
Terlepas dari sunnah atau wajibnya dua perkara ini, Nabi saw selalu melakukannya dan beliau adalah teladan bagi kita. Wallahu a’lam.

9 Jan 2013

Muslim Yang Handal
Menjadi muslim, jangan sekedar identitas. Namun, jadilah muslim yang faham dan mengamalkan. Saat seorang muslim mengikrarkan dua kalimah sahadat, maka konsekwensinya ia haruslah memiliki perasaan terpanggil oleh isu-isu keislaman, mencari solusi hidup berbasis islam, dan memiliki ketertarikan terhadap dunia islam. Dalam dirinya, tertanam pengetahuan yang kuat sebagai fondasi dan motivasi untuk menjalankan syariat islam. Inilah, yang dikatakan sebagai muslim yang handal. Muslim yang memiliki sinkronisasi antara identitas, pengetahuan dan pengamalan secara utuh dan konsisten.
Setidaknya ada 3 syarat yang harus dimiliki unutuk menjadi muslim yang handal, apapun latar belakang, profesi dan tingkat pendidikan dia. Ketiga syarat itu adalah sebagai berikut:
#1. Memahami Teori Keislaman
Menjadi muslim yang handal haruslah paham terhadap teori keislaman. Pengamalan ajaran islam haruslah berbasis pengetahuan, bukan atas dasar ikut-ikutan.  Apalagi pengamalan yang menyangkut rutinitas ibadah ritual, misalnya sholat, puasa, dan lain sebagainya. Janganlah memiliki pandangan bahwa urusan agama adalah urusan Ustadz atau Kyai. Seorang muslim wajib mencari tahu pengetahuan islam, sehingga dia yakin betul apa yang dilakukannya berdasarkan rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan.  Dan juga tidak akan terompang amping pada perbedaan faham dan mudah memvonis dirinya yang paling benar.
#2. Menguasai Bahasa Arab
Pemahaman terhadap bahasa arab, menjadi sesuatu yang tidak mungkin ditinggalkan oleh setiap muslim. Bagaimana tidak, keseluruhan ajaran islam diwarisi dalam bahasa Arab. Ritual Sholat, Text al-Quran, Do’a yang diajarkan nabi, semuanya menggunakan bahasa Arab dan haruslah dipahami dengan baik dan benar.
Semua ulama di awal abad 4 hijriah, saat umat islam dalam puncak kejayaan, tidak ada yang menyatakan bahasa Arab itu tidak penting. Ibnu Khaldun, seorang pengelana di zaman itu, menuturkan bahwa seluruh tempat yang ia singgahi, menerapkan bahasa Arab, meskipun bahasa ibunya bukan bahasa Arab. Jadi, bagaimana mungkin seseorang mengklaim telah menjadi muslim yang baik namun dirinya tidak menguasai bahasa arab.
Saat mendalami al-Quran, janganlah mengedepankan terjemah, apalagi hanya membaca text latinnya. Al-quran adalah pedoman umat islam dan diwarisi dalam bahasa arab. Dan kunci sukses untuk mendalaminya adalah pengetahuan atas bahasa Arab.
#3. Mengenal Sejarah Islam
Setiap muslim harus juga memahami sejarah islam, dari mulai kelahirannya hingga detik ini. Seseorang akan merasa eksis dan percaya diri manakala mampu menjelaskan latar belakang asal usul baik daerah maupun keturunannya. Begitu juga aqidah, seseorang akan terasa nikmat dan termotivasi dengan identitas keislamannya, makakala ia faham dengan sejarah islam. Tahu apa itu islam, perjuangan serta puncak kejayaannya. Sebaliknya, saat tidak mengenal sejarah, ia akan gampang terpuruk pada sikap pesimis terhadap keadaan.
Belajarlah memahami sejarah rosul, para shahabat, dinasti Umayyah, Abbasyiah, Usmaniah, dan lain sebagainya. Sehinga kita memiliki pemahaman yang memadai bahwa islam memiliki formulasi yang unggul untuk menyelesaikan problematika zaman. Dan pada akhirnya kita memiliki rasa percaya diri sebagai muslim yang handal.
maka dari itu,bagi para orang tua yang mempunyai anak yang sangat diharapkan,tindakan yang tepat adalah memasukkan anak itu ke pesantren agar nanti di hari akhir bisa menyelamatkan anda.

9 Des 2012



بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, وصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :

Matahari adalah unit terbesar dari sistem tata surya kita. Matahari sangatlah panas dan mengandung gas yang selalu terbakar. Di permukaannya selalu terjadi ledakan bagaikan jutaan bom atom yang dijatuhkan tiap waktu. Ledakan ini menghasilkan lidah api raksasa yang ukurannya 40 atau 50 kali lebih besar dari bumi kita.

Matahari seperti bola api raksasa yang memberikan panas dan cahaya yang sangat besar dari permukaannya. Ruang angkasa, bagaimanapun, gelap gulita. Bumi kita adalah salah satu bagian yang indah dari kegelapan mutlak itu. Dan, tidak ada unit lain selain matahari di tata surya kita yang mampu menyinari dan menghangatkan bumi kita. Apabila bukan dari matahari, maka akan terjadi malam selama-lamanya, dan setiap daerah akan terselimuti es. Kehidupan dengan begitu akan mustahil, dan kita pun tidak akan ada.

Panas yang diberikan matahari akan sangat tinggi selama musim panas. Namun, matahari jaraknya jutaan kilometer dari bumi, dan hanya 0,2 persen dari panasnya yang benar-benar mencapai bumi. Sejak suhu di bumi bisa sangat tinggi, meskipun matahari letaknya begitu jauh, bagaimana dengan suhu matahari itu sendiri?

Temperatur di permukaan matahari adalah 6.000 derajat Celcius, dan 12 juta derajat Celsius di dalamnya.

Allah telah menciptakan jarak yang sempurna antara bumi dan matahari. Apabila jarak matahari lebih dekat dengan kita, maka semua yang ada di bumi akan menguap dan terbakar. Begitu juga, apabila jaraknya lebih jauh dari saat ini, maka semua daerah akan tertutupi es. Dengan begitu, tentu saja, kehidupan akan mustahil.

Daerah kutub, daerah yang mendapatkan panas paling sedikit dari matahari, secara permanen diselimuti oleh es, sedangkan daerah ekuator, yang mendapatkan lebih banyak panas, selalu panas. Namun, perbedaan suhu antara kutub dan ekuator ini yang menyebabkan terciptanya iklim moderat di bumi secara keseluruhan, dan iklim inilah yang menyokong terwujudnya kehidupan. Hal tersebut adalah salah satu tanda dari tidak terhitungnya bukti cinta Allah kepada manusia.

Bila matahari lebih besar atau lebih kecil, lebih jauh ataupun lebih dekat dengan bumi, maka sangat tidak mungkin terjadi kehidupan di planet kita.

Bagaimanapun juga, Allah menciptakan matahari, bumi dan sistem tata surya dengan sedemikian teraturnya agar kita dapat hidup dengan nyaman. Di ayat lain dalam Al-Qur’an tertera bagaimana matahari dan bulan selalu bergerak sesuai perintah Allah :
وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Artinya : "Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)." (QS An-Nahl : 12)



SHOLATNYA PARA NABI TERDAHULU
            
 Sebagaimana sholat 5 waktu diwajibkan atas ummat Muhammad -sholallahu 'alaihi wasallam-, maka para nabi sebelum beliau juga diwajibkan atas mereka sholat. mereka dan ummat yang mengikuti mereka juga mengerjakan sholat. adapun dasar bahwa mereka juga mengerjakan sholat yaitu sholat yang memang disyariatkan atas mereka dengan syariah yang berbeda-beda adalah sebagai berikut :
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ
                Artinya : "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat." (QS Ibrahim : 37)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
Artinya : "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat." (QS Ibrahim : 40)

Firman Allah tentang Musa dan Harun -'alaihima as-salam- :
وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
                Artinya : "Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman." (QS Yunus : 87)

Dan tentang Isa -'alaihi as-salam- :
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا
                Artinya : "Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup." (QS Maryam : 31)
Dan tentang Zakaria :
فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ
                Artinya : "Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab." (QS Ali Imran : 39)

Dan tentang semua nabi -'alaihim as-salam- :
أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا # فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا # إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا
                Artinya : "Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (58) Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (59) kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun. (60)" (QS Maryam : 58-60)

Adapun sholat mereka juga ada sujud dan rukuknya. Allah berfirman :
وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
Artinya : "Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud"." (QS Al-Baqoroh : 125)
يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ
Artinya : "Wahai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk." (QS Ali Imran : 43)

Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda :
إنا معاشر الأنبياء أُمرنا بتعجيل فطرنا وتأخير سحورنا ووضع أيماننا على شمائلنا في الصلاة
                Artinya : "Kami para nabi diperintahkan akan 3 hal : mendahulukan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan kami diatas tangan kiri kami dalam sholat." (HR At-Thabrani)

                Akan tetapi bagaimana sholatnya para nabi sebelum kita? Allah lebih tahu bagaimana sholat mereka secara lebih mendetail. yang pasti, kita sebagai ummat Muhammad -sholallahu 'alaihi wasallam- diperintahkan untuk melaksanakan sholat sebagaimana yang Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam- contohkan. beliau bersabda :
صلوا كما رأيتموني أصلي
                Artinya : "Sholatlah sebagaimana kalian melihatku sholat." (HR Bukhori)
wabillahi at-taufiq

18 Nov 2012



الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :

Wanita muslimah
Tulisan ini, saya tujukan bagimu wahai muslimah. hanya sebuah inspirasi untuk menyela detik-detikmu yang sibuk untuk beraktifitas. iya, saya katakan kejarlah surgamu ! jangan hanya duduk terdiam, termenung cuma berangan-angan. kamu muslimah yang rindu bertemu denganNya. kamu muslimah yang selalu mengharap surgaNya.
 Wahai muslimah, amalan dalam Islam sangatlah banyak. berusaha mengerjakan sebanyak-banyaknya amalan adalah usaha yang baik. tapi kondisi iman, terkadang naik terkadang juga turun. ketika iman naik maka bawaannya rajin terus semua amalan wajib dan sunnah dikerjakan. ketika turun, mengerjakan yang wajib saja malas.

Terlepas dari semua amalan itu, bagi seorang muslimah, hamba yang ditakdirkan untuk menjadi wanita muslimah. Allah juga menakdirkan untuk memperingkas jalan seorang muslimah untuk sampai surga. apa cara yang Allah tawarkan ? simaklah hadist berikut :
أَيّمَا اِمْرَأَة مَاتَتْ وَزَوْجهَا رَاضٍ عَنْهَا دَخَلَتْ الْجَنَّة
Artinya : "Setiap wanita yang meninggal dalam keadaan suamianya ridho terhadapnya maka dia masuk surga." (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, At-Tirmidzi berkata hadits hasan gharib)                            
 Iya begitu. wanita siapa saja yang meninggal, dan suaminya ridho akan akhlaq dan tingkah lakunya selama hidup bersama maka dia dijamin masuk surga. maka dari itu, bagi muslimah yang sudah memiliki suami, berbaktilah kepada suami dengan sebaik-baiknya. layanilah dia karena jika kamu tidak memenuhi hak-haknya, berarti kamu belum dianggap memenuhi hak Allah. jagalah sikap dan akhlaqmu, karena dia adalah surgamu.
Dan bagi muslimah yang belum memiliki suami, carilah suami yang dapat membimbingmu dan ridho terhadapmu ketika kamu berbakti kepadanya. jangan hanya diam berpangku tangan, karena disitu masa depanmu yang paling utama. maka kejarlah surgamu !

   keutamaan sholat

   Di dalam bebagai kitab hadits banyak sekali hadits yang menegaskan pentingnya shalat serta keutamaan2nya
seperti:
   Perintah pertama yang diturunkan Allah swt. kepada umatku adalah shalat, dan yang pertama kali akan
dihisab pada hari kiamat adalah shalat.
Takutlah kepada Allah mengenai shalat! Takutlah kepada Allah mengenai shalat! Takutlah kepada Allah
mengenaishalat!
Pembatas seseorang dengan syirik adalah shalat.
   Ciri seorang muslim adalah shalat. Seseorang yang mengerjakan shalatnya dengan hati yang khusyu,
menjaga waktu2nya, dn memperhatikan sunnah2nya, maka dia adalah seorang yang beriman.18/11/12 Shalat Dan Keutamaanny a | TrikTips.com
www.triktips.com/977/shalat-dan-keutamaanny a.html 3/7
   Allah swt. tidak mewajibkan sesuatu yang lebih utama daripada iman dan shalat. Seandainya ada suatu
kewajiban yang lebih utama daripada itu, nicaya Allah swt. akan memerintahkan para malaikat-Nya yang
sebagian dari mereka senantiasa ruku dan sebagian lagi terus-menerus sujud.

  • Shalat adalah tiang agama.
  • Shalat menghitamkan mulut setan.
  • shalat adalah cahaya bagi orang beriman.
  • shalat adalah jihad yang paling utama.

     Selagi seseorang menjaga shalatnya, maka Allah swt mencurahkan seluruh perhatian-Nya, tetapi jika ia
melalaikan shalatnya, maka perhatian allah akan terlepas.
Apabila suatu musibah turun dari langit, maka orang2 yang memakmurkan masjid akan terhindar darinya.
Apabila seseorang masuk ke dalam neraka jahanam disebabkan dosa2nya, maka api neraka tidak akan
membakar anggota tubuh yang digunakan untuk bersujud.
Allah swt. mengharamkan api neraka bagi anggota tubuh yang digunakan untuk bersujud.
Amal yang paling disukai Allah swt. adalah shalat tepat pada waktunya.
Keadaan manusia yang paling disukai Allah swt. adalah ketika dalam keadaan sujud, yaitu kening
menyentuh tanah.
   Sedekat-dekat seseorang kepada Allah adalah ketika dia berada dalam sujud.
Shalat adalah anak kunci pintu syurga.
   Apabila seseorang berdiri untuk melaksanakan shalat, maka pintu2 syurga akan terbuka. Lalu
tersingkaplah tabir antara Allah dengan orang yang shalat itu selama dia tidak sibuk dengan batuk dan
sebagainya ( yaitu perkara2 yang dibenci dalam shalat).
   Seseorang yang sedang melaksanakan shalat berarti mengetuk pintu Yang Maha Kuasa, sebagaimana
orang yang mengetuk pintu, maka pasti akan dibukakan baginya.
   Kedudukan shalat dalam agama adalah seperti kepala pada badan.
   Shalat adallah cahaya hati, barangsiapa yang ingin agar hatinya bersinar, hendaklah dia menyinarinya
dengan shalat.
   Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, kemudian melaksanakan dua atau empat rakaat shalat, baik
shalat fardhu ataupun sunnat dengan khusyu dan khudhu, lalu memohon ampunan kepada Allah atas
dosanya, niscaya Allah akan mengampuninya.
   Bagian bumi yang diatasnya disebut nama Allah melalui shalat, maka bagian bumi itu akan
membanggakannya kepada bagian2 bumi yang lain.
   Barangsiapa berdoa kepada Allah setelah melaksanakan shalat dua rakaat, niscaya Allah mengabulkannya
baik secara langsung ataupun ditangguhkan, demi kemaslahatan dirinya. Yang jelas doanya pasti diterima.
   Barangsiapa melaksanakan shalat 2 rakaat seorang diri tanpa diketahui oleh siapapun kecuali Allah dan
para malaikat-Nya, maka dia mendapat jaminan keselamatan dari api neraka.
   Barangsiapa melaksanakan satu shalat wajib, maka bginya satu doa yang makbul disisi Allah.
Orang yang menjaga shalat lima waktu, dengan memperhatikan ruku, sujud dan wudhu yang sempuna,
maka wajib baginya syurga dn haram baginya neraka.
   Selama seorang muslim menjaga shalatnya, maka setan akan takut padanya. Tetapi jika melalaikannya,
maka setan akan berani kepadanya dan akan menyesatkannya.
  Amal yang paling utama adalah shalat lima waktu.
  Shalat adalah kurbannya setiap orang yang bertakwa.
  Amal yang paling disukai Allah adalah shalat di awal waktu.
   Barangsiapa pergi untuk melaksanakan shalat Subuh, maka ditangannya dia membawa bendera iman. Dan
barangsiapa pergi kepasar pada waktu subuh, maka ditangannya adalah bendera setan.18/11/12 Shalat Dan Keutamaanny a | TrikTips.com
www.triktips.com/977/shalat-dan-keutamaanny a.html 4/7
    Empat rakaat shalat sunnat sebelum shalat Zhuhur sama pahalanya dengan empat rakaat shalat Tahajjud.
Empat rakaat shalat sunnat sebelum Zhuhur, kedudukannya sama dengan 4 rakaat shalat Tahajjud.
Apabila seseorang berdiri melaksanakan shalat, maka rahmat Allah tercurah padanya.
Seutama-utama shalat (setelah shalat fardhu) adalah shalat pada pertengahan malam, namun sedikit sekali
orang yang mengerjakannnya.
   Jibril as. datang kepada Muhammad saw, dan berkata “Wahai Muhammad, berapapun lamanya engkau
hidup, suatu hari nanti pasti akan mati juga. Siapapun yang engkau cintai, pada suatu hari nanti pasti
engkau berpisah dengannya. Dan segala amalan yang engkau kerjakan (yang baik ataupun yang buruk),
pasti engkau akan mendapatkan balasannya. Tidak diragukan lagi bahwa kemuliaan seorang mukmin
adalah pada Tahajjudnya, dan kemuliaannya juga adalah pada sifat qana’ahnya.”
   Dua rakaat shalat pada akhir malam adalah lebih utama daripada dunia dan seisinya. Seandainya tidak
memberatkan umatku, niscaya aku akan mewajibkannya kepada mereka.
Jagalah shalat Tahajjud, karena Tahajjud adalah jalan orang2 shalih dan jalan untuk mendekati Allah,
penjaga dari pebuatan dosa, penyebab keampunan dosa, dan meyehatkan badan.
Allah swt berfirman, “Wahai anak adam, janganlah malas melaksanakan empat raakat shalat pada
permulaan hari, niscaya Aku pasti akan memenuhiseluruh keperluanmu pada hari itu.”
   Sesungguhnya keutamaan shalat dan kabar gembira bagi orang2 yang menjaganya banyak sekali disebutkan di dalam kitab2 hadits. Sesungguhnya shalat adalah sesuatu kekayaan yang sangat berharga. Hanya orang2 yang diberi Allah kelezatan shalat yang dapat menghargainya. Begitu berharganya shalat, sehingga Rasulullah saw. menjadikannya sebagai penyejuk mata, dan karena kelezatannya maka beliau saw. menghabiskan sebagian besar malamnya dengan melaksanakan shalat. itulah alasannya mengapa Rasulullah saw. secara khusus berwasiat mengenaishalat ketika akhir hata beliau saw. dan berpesan agar benar2 menjaganya.
   Di dalam banyak hadits, Rasulullah saw, bersabda, “Takutlah kepada Allah mengenaishalat,…Takutlah kepada Allah mengenaishalat,…Takutlah kepada Allah mengenaishalat,” Ibnu mas’ud ra. meriwayatkan dariRasulullah saw., bahwa beliau saw bersabda, “Amalan yang paling kucintai adalah SHALAT"

17 Nov 2012

Masalah Manusia
   Setiap manusia dilahirkan mempunyai masalah. Pelbagai persoalan muncul di depan mata, seakan tiada habisnya. Lebih daripada itu, masalah itu semakin menenggelamkan manusia pada penderitaan yang tidak berkesudahan.
   Ramai di antara mereka yang berputus asa. Perintah solat mulai  ditinggalkan, bersedekah apa lagi. Bahkan ironinya, ada yang pergi ke dukun, mencuri, menjual diri dan pelbagai bentuk kejahatan lain yang dianggap sebagai solusi untuk menyelesaikan krisis yang melanda diri mereka.
   Hidup pun tiada terasa indahnya lagi. Lihat ke kanan masalah, ke kiri masalah, atas dan bawah pun masalah yang seakan-akan datang menghimpit seluruh jiwa dan raga.
   Lalu apa yang patut kita lakukan ketika ini? Adakah kita hanya bersembunyi di balik masalah ini?           Menjerumuskan diri pada bentuk maksiat yang menjanjikan keuntungan besar dalam masa singkat? Minum minuman keras yang dapat melupakan masalah kita dalam masa sementara? Atau bunuh diri agar masalah yang dihadapi selesai setelah kita mati?
   Semua perkara di atas amat mudah terlintas dalam fikiran manusia kerana pada prinsipnya manusia sangat mudah berputus asa. Alangkah meruginya kita kalau fikiran-fikiran seumpama ini kita ikuti.
Koreksi Diri Sentiasa
   Di saat manusia ditimpa pelbagai musibah dan masalah, tindakan bijak yang perlu kita lakukan adalah memuhasabah hubungan kita dengan Allah swt. Salah satu bentuk komunikasi yang perlu kita lakukan adalah berdoa.
Doa hakikatnya adalah penuntun kita untuk melakukan perubahan diri. Hidup kita bukanlah sestatis laut mati. Ia sentiasa bergerak dan berubah dari masa ke semasa. Banyak cabaran yang perlu kita hadapi setiap hari. Melalui musibah inilah, Allah akan melihat siapa hamba-Nya yang sebenarnya. Siapakah hamba-Nya yang bagus kualiti peribadinya? Siapakah hamba-Nya yang mahu melakukan perubahan? Dan perubahan inilah yang menjadi esensi dari doa yang kita panjatkan.
Ibnu Ata'illah menukilkan sesuatu yang amat berharga dalam kitabnya al-Hikam :

   "Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yang luar biasa padahal engkau sendiri tidak merubah dirimu dari kebiasaanmu? Kita banyak meminta dan banyak berharap kepada Allah swt, tetapi kerana sibuk meminta terkadang membuat kita tidak sempat menilai diri sendiri. Padahal kalau kita meminta dan akibatnya kita merubah diri sendiri, Allah akan memberikan apa yang kita minta kerana sebenarnya doa itu adalah pengiring agar kita dapat merubah diri kita. Jika kita tidak pernah mahu merubah diri kita menjadi lebih baik, tentu ada yang salah dengan permintaan kita."

   Berdoa berjuta sekalipun, kalau kita tidak melakukan perubahan diri, ianya tidak akan berubah kerana sememangnya itulah ketetapan-Nya. Kekuatan seseorang untuk merubah dirinya dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan kejayaan seseorang. Jika hidup selalu ditimpa musibah, hutang tidak pernah terlansaikan, pelajaran pun tidak dapat diikuti dengan baik, jelas itu menunjukkan ada yang tidak kena dengan diri kita.
   Adakah semua ini kerana Allah tidak memakbulkan doa kita? Cubalah kita muhasabah diri. Tinggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini sebati dengan diri kita. Tingkatkan kualiti dan kuantiti ibadah kita. Jika dulu kita orang yang panas baran, cubalah perbaiki sifat ini dengan mengingat-ingat akibat yang akan berlaku jika kita selalu marah kepada orang lain hatta masalah sekecil manapun.
Firman Allah dalam surah al-Ra'd ayat 11 yang bermaksud:
"Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum sehingga dia sendiri yang merubahnya"
Allah sendiri telah menjamin akan mengabulkan doa setiap hamba-Nya sebagaimana termaktub dalam surah al-Baqarah ayat 186 yang bermaksud :
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
   Oleh itu kita kena muhasabah diri. Lihatlah kekurangan yang ada pada diri kita. Jika kita inginkan kejayaan dalam peperiksaan, tapi tidak meningkatkan usaha dalam mengulang kaji pelajaran, jangan salahkan sesiapapun jika kita gagal kelak.
   Doa yang kita panjatkan kepada Allah swt ibarat tanaman. Kekuatan kita untuk mahu berubah adalah benihnya. Manakala doa itu sendiri adalah bajanya. Baja akan membuat benih tumbuh, berbuah banyak dan berdaun lebat. Akan tetapi, jika kita hanya menebar baja tanpa sedikitpun benih yang kita tanam, apa yang akan tumbuh?
   Jika doa semakin bagus, ini menunjukkan bahawa perubahan telah terjadi dalam diri kita secara perlahan-lahan. Jika kita meminta tiada henti, dalam masa yang sama kita pun bermaksiat, jangan salahkan siapapun kerana doa seperti ini ibarat gema kosong yang hanya memantulkan suara sahaja.
   Demikianlah formulanya yang sangat sederhana. Siapapun yang ingin doanya dimakbulkan oleh Allah, jangan perhatikan apa yang kita minta, tetapi perhatikanlah apa yang dapat kita rubah dari diri kita sendiri. Misalnya, hidup kita sentiasa ditimpa masalah, hutang keliling pinggang dan sebelumnya jarang ke masjid dan mengikuti tazkirah agama. Mulailah dari sekarang, jika terlintas dalam fikiran kita
"Takkan lah saya ke masjid supaya Allah langsaikan hutang saya?". Cuba alihkan fikiran seumpama ini
"Mengapa saya harus malu diundang oleh Allah ke rumah-Nya? Mudah-mudahan setelah hutang saya langsai, saya akan lebih rajin lagi ke masjid."
Doa Tidak Dimakbulkan
    Kadang kita berburuk sangka dengan Allah tanpa kita menyedarinya. Sudah banyak kali kita berdoa. Tapi  mengapa doa kita tidak kunjung dimakbulkan. Tak kan Allah tidak dengar doa kita sedangkan Allah Maha Mendengar. Mungkin ada yang salah dengan doa kita.
   Doa kita tidak akan dimakbulkan jika minda kita tidak percaya apa yang kita minta. Doa kita tidak akan dimakbulkan jika hati kita tidak rasa apa yang kita minta. Doa kita tidak akan dimakbulkan jika komitmen kita tidak dijalankan dengan sepenuhnya.
   Apa yang kita minta, apa yang kita fikir, apa yang kita rasa, dan apa tindakan yang kita lakukan, disitulah kunci makbul. Itulah sunnatullah. Ada sebab, ada akibatnya.
   ika kita minta dengan jelas, seiring dengan apa yang kita rasa, apa yang kita fikirkan, dan komitmen dengan tindakan yang kita lakukan, ianya akan membuka pintu rezeki atau peluang seperti yang kita kehendaki. Kadang-kadang peluang itu datang daripada sumber yang tidak disangka-sangka.
"Dan dia memberi rezeki kepadanya dari arah yang dia tidak menjangkakan. Dan sesiapa mempercayakan (tawakkal) kepada Allah, Dia akan mencukupnya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan ukuran bagi segala sesuatu."
(Surah at-Talaq ayat  2-3)
   Teringat pada satu kisah penduduk Basra yang pada masa itu sedang dilanda masalah sosial. Kebetulan mereka didatangi oleh ulama besar yang bernama Ibrahim bin Adham. Penduduk Basra pun mengadukan nasibnya kepada Ibrahim bin Adham.
"Wahai Abu Ishak (gelaran Ibrahim bin Adham), Allah berfirman dalam al-Qur'an agar kami berdoa. Kami penduduk Basra sudah bertahun-tahun berdoa, tetapi mengapa doa kami tidak dimakbulkan Allah?".
Ibrahim bin Adham menjawab, "Wahai penduduk Basra, kerana hati kalian telah mati dalam sepuluh perkara. Bagaimana mungkin doa kalian akan dimakbulkan oleh Allah?".
1. Kalian mengakui kekuasaan Allah, tetapi kalian tidak memenuhi hak-hak-Nya.
2. Setiap hari kalian membaca al-Qur'an, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya.
3. Kalian selalu mengaku cinta kepada Rasul, tetapi kalian meninggalkan sunnahnya.
4. Setiap hari kalian membaca ta'awuz, berlindung kepada Allah dari syaitan yang kalian sebut sebagai musuh, tetapi setiap hari pula kalian memberi makan syaitan dan mengikut langkahnya.
5. Kalian selalu mengatakan ingin masuk syurga, tetapi perbuatan kalian justeru bertentangan dengan keinginan itu.
6. Kalian takut masuk neraka, tetapi kalian justeru mencampakkan diri kalian sendiri ke dalamnya.
7. Kalian mengakui bahawa maut adalah satu kepastian, tetapi pada kenyataannya kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
8. Kalian sibuk mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi terhadap kesalahan sendiri kalian tidak mampu melihatnya.
9. Setiap saat kalian menikmati kurniaan Allah, tetapi kalian lupa mensyukurinya.
10. Kalian sering menguburkan jenazah saudara kalian, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran daripadanya.
"Wahai penduduk Basra, ingatlah sabda Rasulullah saw, "Berdoalah kepada Allah, tetapi kalian harus yakin akan dimakbulkan. Kalian harus tahu bahawa Allah tidak berkenan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan main-main".
Usaha Dan Doa
   Usaha tanpa doa adalah kesombongan dan doa tanpa usaha adalah kebohongan. Doa dan usaha adalah dua hal yang tidak mungkin dipisahkan. Kita tidak boleh hanya berdoa sahaja tanpa melakukan usaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan kita. Kita juga tidak boleh hanya berusaha sahaja tanpa berdoa dan mengabaikan Allah sebagai penentu sama ada usaha kita berjaya atau tidak.
   Sesetengah manusia terlalu sombong, tidak mahu berdoa. Seolah-olah ia dapat menghasilkan sesuatu tanpa pertolongan daripada Allah swt.
   Sesetengah manusia terlalu sombong, tidak mahu berdoa. Seolah-olah ia dapat beribadah tanpa pertolongan daripada Allah swt.
Sesetengah manusia terlalu sombong, jarang berdoa. Seolah-olah kekuatan manusiawinyalah yang dapat mewujudkan seluruh asanya tanpa pertolongan daripada Allah swt.
Dan rabbmu berfirman yang bermaksud:
"Berdoalah kepada-Ku, nescaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina."
(Surah al-Mukmin ayat 60)
Al-Syaukani rahimahullah berkata, "Ayat ini memberikan pengajaran kepada kita bahawa doa adalah ibadah dan bahawa meninggalkan doa kepada Rabb Yang Maha Suci adalah sebuah kesombongan. Tidak ada kesombongan yang lebih buruk daripada kesombongan seperti ini. Bagaimana mungkin seorang hamba dapat berlaku sombong, tidak berdoa kepada Zat yang merupakan Penciptanya, Pemberi rezeki kepadanya, Yang mengadakannya dari tiada dan Pencipta alam semesta ini, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Yang memberi ganjaran dan Yang memberi balasan. Maka tidak diragukan lagi bahawa kesombongan ini adalah bahagian dari kegilaan dan kekufuran terhadap nikmat Allah swt."
    Dengan berdoa bererti kita merendahkan diri kepada Allah swt. Ia merupakan sesuatu yang paling mulia di sisi Allah SWT dibandingkan yang lainnya. Allah swt sangat suka kepada hamba-Nya yang merendah diri kepada-Nya dan menunjukkan bahawa hanya Allahlah Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Pengatur, Yang Maha Pencipta, tiada sekutu bagi-Nya.
Doa Mendekat Diri Kepada Allah
   Allah sentiasa inginkan hamba-Nya dekat dengan-Nya. Pelbagai cara disediakan oleh Allah untuk mendekatkan hamba-Nya dengan-Nya. Antaranya dengan mendatangkan musibah. Tidak ada sedikitpun maksud Allah untuk menzalimi hamba-Nya kerana Maha Suci Dia dari sifat zalim.
Jangan berburuk sangka dengan Allah bahawa setiap musibah yang didatangkan kepada kita menunjukkan Allah sedang marah dan menzalimi kita. Ketika berdoa, yang paling utama adalah bukanlah dimakbulkannya doa kita atau hilangnya derita yang kita alami, tapi adalah meningkatnya kedekatan kita kepada Allah.
Betapa banyak orang yang hidup dengan limpahan harta kekayaan, jawatan yang tinggi, pujian dan penghargaan terus datang mewarnai kehidupannya. Namun semua itu tidak menjanjikan kebahagiaan kepadanya. Itu kerana dia mendapatkannya tanpa doa.
Berbeza halnya dengan orang yang mengenal Allah dalam setiap langkah kehidupannya. Itulah kekayaan yang hakiki.
Jadi hakikat doa adalah bagaimana dengan doa itu kita semakin dekat dengannya. Refleksi dari doa ini nampak pada akhlak yang tercermin dalam kehidupan harian kita yang menjadikan kita lebih baik di masa hadapan.
Ingatlah Allah itu Maha Memberi. Dia tidak lupa untuk memberi. Kita tidak minta diberi makanan, tapi Dia tidak lupa untuk memberi makanan kepada kita. Kita tidak minta diberi pakaian, tapi Dia tidak lupa untuk memberi pakaian kepada kita.
Ibnu Ata'illah menyatakan: "Bukan tujuan utama itu hanya sekadar berdoa. Tapi tujuan yang utama adalah agar engkau mengetahui adab terhadap Tuhanmu."