Sholawat
Kepada Nabi
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya
bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk
Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al Ahzab [33]: 56).
Bershalawat pada Nabi Muhammad SAW
adalah salah satu amalan yang sangat Allah anjurkan, bahkan ibadah ini bukan
hanya dilakukan oleh para manusia saja tapi juga para Malaikat dan Dzat-Nya
sendiri. Bershalawat dari Allah berarti memberi rahmat, anugrah dan
pujiaan-Nya, dari Malaikat berarti memintakan ampunan sedangkan dari seorang
Mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat dan penghormatan padanya. Hal ini
dapat dilakukan dengan membaca Shalawat Ibrahimiyah –Shalawat yang selalu
dibaca pada setiap Tahiyyat Akhir Shalat- atau sekedar dengan perkataan Allahuma
shalli ala Muhammad. dan Assalamu’alaika ayyuhan Nabi.
Dari ayat di atas kita dapat
mengambil kesimpulan bahwa Shalawat dilakukan seluruh para Makhluk yang ada di
dunia ini baik Malaikat, Manusia serta seluruh yang ada di alam ini termasuk
dzat-Nya, namun Taslim hanya disandarkan pada manusia saja. Ada jawaban menarik
yang disampaikan DR. Jamal Faruq, MA (Dosen pada Fakultas Dirasat Islamiyah wal
Arabiyah Universitas Al Azhar Cairo) berkenaan hal ini. Taslim ternyata
memiliki tiga arti. Petama, Penghormatan. Seperti yang terdapat pada Surat Al
Ahzab ayat 44, Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang Mukmin itu) pada
hari mereka menemui-Nya ialah: Salam [Sejahtera dari segala bencana]; dan dia
menyediakan pahala yang mulia bagi mereka. Kedua, keselamatan.
Sebagaimana yang terdapat dalam Surat Al Waqi’ah ayat
91, Maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. Ketiga, tunduk dan
patuh. Contohnya dalam Surat An Nisa ayat 65, maka demi Tuhanmu, mereka (pada
hakekatnya) tidak beriman hingga mereka mejadikan kamu hakim dalam perkara yang
mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati
terhadap putusan yang yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
Dari ketiga makna diatas ternyata
makna ketigalah yang tidak layak kita sandingkan pada dzat Allah SWT, karena
Sang Khaliq (Pencipta) tak patut unuk tunduk pada siapapun. Adapun Malaikat,
maka makna kedualah yang tak layak kita sandarkan padanya, karena para malaikat
adalah makhluk yang selalu menjalankan titah Tuhannya tanpa memliki sedikitpun
kesalahan dan kekurangan.

gak bisa berubah warnanya
BalasHapus